Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Hallo, Cinta!



Hallo, Cinta!
Sebuah review buku #Penjaja Cerita Cinta

Saya tercengang tatkala membaca paragraf pertama pada halaman  pengantar: Anda harus baca samapi selesai setiap cerpen dalam buku ini! Jangan menyimpulkan apapun sebelum menuntaskannya!
Wuih! Sadis bener ya...padahal cerita itu kan dinikmati. Kalau asik ya terus bacanya, kalau nggak asik ya ditinggal aja. Tapi kenapa sampai ada ultimatum segitunya langsung dari penulis?!
Well, setelah menuntaskan seluruh cerita dalam buku ini saya baru ‘ngeh’ bahwa ada nilai pesan yang tersirat yang  tidak mungkin terbaca jika kamu tidak tuntas membacanya.
Thats right!




Judul          : Penjaja Cerita Cinta
Penulis       : @edi_akhiles
Penerbit     : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1  : Desember 2013
Tebal         : 192 halaman

 Buku ini bercerita tentang cinta. Cinta penulis pada dunianya. Judul buku “Penjaja Cerita Cinta” diambil dari judul cerpen pertama yang berkisah tentang  penjaja cerita yang menceritakan cerita cinta seorang gadis dan kesetiaannya menunggu kekasih di kala senja. Secara gamblang tak ada kaitanya cerpen Penjaja Cerita Cinta ini dengan ke empat belas cerita lainnya. Karena lima belas cerita dalam buku ini memang memiliki karakter yang berbeda. Namun dalam cerpen Penjaja Cerita Cinta agaknya penulis begitu cerdik menyisipkan muatan Rindu, Perpisahan, Kenangan, dan Kesetiaan dalam tatanan alur yang pas. Empat unsur yang tak lepas dari esensi cinta itu kemudian mengalir pada cerita-cerita selanjutnya;

Rabu, 01 Januari 2014

Sabar itu... (2)

Sumber gambar: hasil googling ^_^


Saat belajar tentang sabar, saya menemukan beberapa ayat:

 "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" QS. 2 : 153

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung" QS. 3 : 200

Jumat, 13 Desember 2013

Pemuda Sayap Politik Indonesia



masih sempatkah kita berbenah
or, menyesalkah kita
dengan pemikiran yg masih sama

  
Pemuda Sayap Politik Indonesia


Masih ingatkah kita tentang seorang gadis belia yang sempat menjadi pembicaraan di berbagai media pertengahan September 2012 lalu? Gadis itu bernama Bashaer Othaman yang berasal dari palestina. Dia mengunjungi Indonesia disponsori oleh World Peace Movement guna menyampaikan pesan perdamaian bagi generasi muda di Indonesia. Tapi yang menjadi sorotan sebenarnya bukan pada pesan yang hendak disampaikan remaja ayu itu. Melainkan yang lebih menarik dan membuat publik tercengang adalah talenta Bashaer yang telah menduduki jabatan Walikota di usianya yang tak lebih dari enam belas tahun! Ya, pengalaman memimpin kota Allar Tepi Barat Palestina saat sekelas pelajar membuat Bashaer menyandang predikat Walikota termuda di dunia.

Rabu, 11 Desember 2013

Sabar itu.... (1)


Sabar itu...

“Ya sabar sih sabar, tapi kan sabar itu ada batasnya”
“Sabar itu tidak ada batasnya, kalau ada batasnya ya berarti bukan sabar”
Pernyataan-pernyataan itu seringkali  terdengar, entah dari saudara, teman, tetangga, ataupun dari dialog-dialog di sinetron televisi.

Lalu yang jadi pertanyaan: Sabar itu apa? Bagaimana kita bersabar? Dan adakah batasan sabar, dimana?

Dari sekian definisi sabar, yang menurut saya paling pas adalah "Sabar merupakan sikap dan perilaku menahan diri untuk tetap dalam aturan syariat Islam dengan tidak melakukan apa yang dilarang dan menjalankan apa yang ditetapkan".

Jumat, 06 Desember 2013

Duo Edi



 Ketika banyak orang mengejar posisinya, jujur dia berkata, “Dulu saya bercita-cita jadi petani.” Nadanya datar. Sama sekali tidak menyiratkan penyesalan karena kini tiap jam ada saja masalah yang datang. Juga bukan ucapan kesombongan atas prestasi yang melebihi harapan. Dia hanya menegaskan bahwa hidup ini seperti aliran air yang membawa kita bersamanya. Kadang berarus tenang yang menjadi tempat kita berenang riang. Namun kadang seperti jeram, yang membuat kita rela terlempar.

Kamis, 05 Desember 2013

Saham Bagi Para Buruh




Tuntuan kenaikan upah buruh  yang hampir terjadi tiap tahun sebenarnya adalah bentuk pelecehan pada perusahaan. Yang artinya perusahaan belum bisa berinisiatif menaikkan nilai kesejahteraan  bagi para pekerjanya, sehingga inisiatif harus lahir dari para pekerja itu sendiri. Toh, tuntuan para buruh itu bukan seratus persen tidak mungkin direalisasikan. Terbukti ‘baru’ setelah dilakukan demo besar-besaran pihak perusahaan mau memberikan nilah upah yang lebih besar. Walaupun jumlah angkanya tidak sama persis dengan yang tertera pada kertas tuntutan, tapi paling tidak sudah ada kesepakatan baru tentang harga jasa antara buruh dan perusahaan. Jadi bukankah perusahaan memiliki kemampuan menaikkan upah? (pertanyaannya: mungkinkah jika tanpa diawali demo?)

Rabu, 04 Desember 2013

Korupsi... Oh, Korupsi... Nasibmu Kini

Korupsi... Oh, Korupsi... Nasibmu Kini


Alkisah di suatu negeri, raja hendak mengadakan perayaan kerajaan. Seluruh rakyat diwajibkan memberikan sebelanga susu sebagai minuman pada acara jamuan. Banyak  rakyat yang tidak rela, namun karena itu titah sang raja tak seorang pun berani menentangnya.

Pada hari yang ditentukan, pada punggawa raja menyiapkan sebuah gentong raksasa. Gentong itu ditelakkan di taman depan istana. Setiap rakyat yang menjadi warga negeri tersebut harus memasukkan sebelanga susu ke dalam gentong raksasa itu. Para punggawa istana juga mendata agar tidak ada rakyat yang tidak membawa belangga susu.

Ternyata ada seorang rakyat yang ingin berbuat curang. Dia tidak rela memberikan susu sebagai minuman di pesta perayaan kerajaan. Dia berniat mengisi belanga miliknya dengan air biasa. Dia berpikir bahwa susu segentong raksasa tidak akan berpengaruh jika hanya dicampur sebelanga air miliknya. Mulailah dia membawa belanga berisi air ke tempat gentong raksasa di taman istana. Para punggawa tidak akan tau karena belanga terbuat dari tanah liat yang tidak tembus pandang. Seorang rakyat tersebut langsung memasukkan air ke gentong raksasa, lalu bersegera pulang.

Setelah mengecek bahwa setiap warga telah memasukkan susu ke gentong raksasa, para punggawa menutup gentong tersebut. Keesokan harinya para punggawa hendak memberikan gentong raksasa kepada pelayan dapur istana untuk disiapkan sebagai jamuan pesta. Tapi mereka sangat terkejut saat membuka penutupnya. Para punggawa dan pelayan istana itu tercengang melihat isi gentong raksasa. Bukan air susu yang ada dalam gentong tersebut, melainkan air tawar bening yang sama dengan air kolam istana.

Syahdan, tidak hanya satu orang yang berbuat curang dengan mengisi belanganya dengan air tawar, tapi setiap rakyat melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama berpikir bahwa satu belanga air tawar tidak akan mempengaruhi segentong raksasa susu. Dan mereka berpikir dirinya akan terlepas dari kesahalan karena orang banyak lah yang akan menutupi kesalahannya.

**

Kisah tersebut adalah cerita yang pernah saya baca saat masih kanak-kanak. Pesan moralnya jelas, bahwa kerusakan yang besar bisa jadi diawali dari perilaku kita yang kecil. Bahayanya kita merasa aman dari kesalahan yang kita anggap kecil tersebut. Atau kita merasa kesalahan yang sengaja kita lakukan tidak akan berpengaruh apa-apa; tidak akan berpengaruh pada kehidupan kita apalagi kehidupan banyak orang.

Apa pengaruhnya mengambil keuntungan sekian ratus milyar dari dana negara yang APBNnya mencapai ribuan trilyun?? Seperti juga apa pengaruhnya menerima uang seratus ribu dari calon kepala daerah sedang dana kampanye mereka ratusan juta? Lalu pemikiran ini tidak hanya berhenti pada satu orang melainkan menjadi wabah pada setiap orang. Maka lihatlah pelaku kasus korupsi korupsi jumlahnya bertambah setiap hari. Bahkan jika foto mereka yang sudah terbukti korupsi dan dinyatakan bersalah di jajar di lembaran kertas, jumlahnya bisa menyaingi jumlah foto caleg DPD pada pemilu 2004. Belum lagi mereka yang masih bsa menutupi kejahatan korupsinya.

Padahal kita ingat bagaimana kisah masa kecil seorang ulama besar Asy Syafi'i, saat ibunya meninggalkan beliau sendiri di beranda rumah. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang saat itu masih bayi lalu menangis. Seorang tetangga yang iba melihat Syafi'i kecil menangis serta merta menyusuinya. Mengetahui bayinya disusui orang lain, ibu imam Syafi'i segera merebut anaknya dan membawa kedalam rumah. Ibu sang imam mengguncang-guncangkan dan mengocok perut anaknya dengan keras hingga semua cairan di perutnya muntah keluar. Seorang keluarga mempertanyakan apa yang dilakukannya, lalu si ibu menjawab: "Aku hanya khawatir perempuan tadi memakan makanan yang subhat kemudian air susunya terminum oleh anakku." Subahanallah!

Pertanyaannya: apa pengaruh susu dari perempuan yang memakan makanan subhat bagi kehidupan sang anak?  (Namun paling tidak kita punya gambaran bagaimana seorang ibu menjaga makanan yang sampai ke perut anaknya sehingga si anak tumbuh sebagai penghafal Al Quran pada usia tujuh tahun).

Kembali pada bahasan kita bahwa sesuatu yang besar tidak bisa lepas dari pengaruh sesuatu yang kecil. Begitupun pada fenomena korupsi yang semakin menggurita. Dan seyogyanya kita tidak perlu tercengang dengan ulah pejabat A yang melakukan tindakan korupsi senilai sepuluh milyar, pejabat B dengan nilai enam trilyun, pejabat C dengan jumlah yang lebih besar dan sebagainya. Yang seharusnya ditelaah tidak melulu dari nominal yang mereka gelapkan atau jumlah potensi kerugian negara, tapi dari perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai aturan. Hemat saya, jumlah itu menyesuaikan dimana seseorang itu berada, semakin besar dia dikelilingi pusaran uang semakin besar pula jumlah nominal yang bisa dia dapatkan. Perbedaannya seseorang mau melakukannya atau tidak.

Tentu saja tindakan korupsi itu bisa dilakukan setiap orang. Tak peduli seorang pejabat negara, pejabat daerah, atau masyarakat biasa. Korupsi bukan lagi dominasi orang-orang pemegang kekuasaan atau pemangku jabatan tertentu. Ini tentang kesadaran perilaku, sebuah kontruksi mental.

Saya contohkan pada pensubsidian BBM (Bahan Bakar Minyak, bukan BlackBerry Mesenger  ^_^ ), pengurangan/pengalihan subsidi BBM disinyalir selain bakal semakin melumpuhkan perekonomian rakyat kecil juga berpotensi menjadi 'kue' yang lebih besar di kalangan mafia anggaran. Maka bagaimanapun masyarakat diedukasi tentang dampak positif pengalihan subsidi ini, mereka akan mengeluarkan statemen: "ujung-ujungnya pasti dikorupsi." Apakah statemen ini salah? Tidak juga, karena mungkin statemen itu benar. Tapi yang butuh dicermati, saat BBM mendapat subsidi dari dana negara apakah tidak ada perilaku korupsi? Lihat dimana bus dimodifikasi sebagai wadah penampung BBM bersubsidi lalu dijual dengan harga non-subsidi. Lihat ketika penjual bensin eceran menahan barang dagangannya beberapa hari sebelum harga bensin resmi dinaikkan sehingga bensin menjadi barang langka di pasaran. Lihat bagaimana pemilik mobil-mobil high-class  'memaksa diri' turut menghabiskan dana negara dengan menjejalkan premium bersubsidi yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menengah kebawah ke mesin mobilnya.

So, siapa mereka?  Pejabat pemerintah? Anggota DPR? Kepala Daerah? Bukan! Mereka tidak harus pejabat di pemerintahan, tidak harus punya wewenang pengelolaan anggaran negara, mereka sama seperti kita, dan bisa jadi mereka adalah diri kita sendiri.

Contoh lain pada subsidi dana pendidikan. Pemangkasan dana bantuan sekolah dari seratus juta menjadi sekian puluh juta tentu merupakan perilaku keji yang tidak bertanggung jawab oleh pejabat Kementrian Pendidikan yang berwenang. Itu jelas sebagai tindak pidana korupsi. Tapi bagaimana dengan penyalahgunaan dana operasional oleh oknum-oknum di sekolah-sekolah daerah? Jika seorang guru mengisi absen kegiatan pelatihan hanya untuk mendapatkan uang akomodasi lalu pergi meninggalkan tempat, apakah tu bukan wujud korupsi?

Menghadapi perilaku korupsi yang sudah sedemikian meluas, sedemikian mengakar, dan sedemikian rumit, banyak pakar yang kemudian mewacanakan perubahan sistem, baik sistem pemerintahan, sistem administrasi, sistem pengawasan, dan berbagai sistem yang lain. Bagi saya, perubahan yang paling utama, sangat urgent, dan harus segera dilakukan adalah perbaikan mental. Karena sistem hanyalah sebuah medium, dan mental adalah mesin yang menggerakkan perilaku manusia.

Setiap dari kita yang harus merekontruksi pemikiran bahwa hal kecil yang kita lakukan akan berpengaruh besar pada kehidupan kita dan kehidupan banyak orang. Tidak peduli berapapun nominal dan keuntungan yang kita dapatkan yang tidak semestinya atau melalui jalan yang salah akan menjadi bumerang di waktu yang akan datang. Dan kita harus rela menghapus pernyataan "jika aku tidak ambil pun akan diambil orang lain" dari mental kita, karena sama seperti sikap buruk sikap baik pun berpotensi menyebar pada orang lain. Toh walaupun orang lain masih melakukan korupsi saat kita memilih menahan diri, kita tidak akan rugi.

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad)

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula" (QS. 99 : 7-8).

Semoga kita umat muslim termasuk orang-orang yang terlindungi dari perilaku-perilaku korupsi sekecil apapun dan dimanapun kita berada.



*) Ditulis oleh Hayatika Ukiyanus sebagai materi lomba Menulis di Blog "Muslim Anti Korupsi" yang diselenggarakan oleh @ppmAswaja
 www.cyberdakwah.com

info lombanya disini

Selasa, 03 Desember 2013

Film Islami Atau Islamisasi Film (2)

~ Lanjutan dari Filim Islami atau Islamisasi Film (1)


             
Simbolisasi Islam Dalam Film
            Memang belum ada teori baku tentang apa dan bagaimana film dikategorikan film Islami. Namun seyogyanya sebuah film Islam bermula dari suatu niat mendakwahkan islam ditengah masyarakat. Dan sesuai dengan konsep dakwah Islam yakni amarmakruf nahi munkar, maka film islam haruslah memberi pemahaman konsep Islam secara benar, mendorong terhadap perbaikan perilaku ummat, dan menceggah kebatilan. Bukan hanya sebagai pelabelan atau simbolisasi Islam.
            Seperti yang banyak kita lihat dilayar kaca menjamurnya film-film bergenre Islam seakan tidak lebih dari melabelkan seseorang dengan atribut Islam.  Seorang yang kaya dan congkak, dengan hanya menyelempangkan kain sorban jadilah tokoh haji yang sombong. Seorang gadis yang ingin digambarkan baik dan manis, cukup dengan membalut wajahnya dengan sehelai kerudung cocoklah dia menyandang tokoh muslimah. Dan jika ingin mengambarkan sosok ustad cukuplah kiranya memasangkan assesoris berupa songkok atau kopyah dikepalanya. Baik sorban, kerudung, kopyah, dan sebagainya merupakan simbol-simbol yang sengaja dilekatkan untuk memberikan kesan islami, walaupun keseharian mereka digambarkan jauh dari tuntunan Islam.
            Lantas apakah hal ini patut mendapat apresiasi positif? Penulis menyatakan tidak!

Film Islami Atau Islamisasi Film (1)



              Sejenak flashback pada 10 sampai 5 tahun yang lalu, saat Ramadhan mata kita selalu dimanjakan dengan film-film religi yang menyuguhkan kesan kesantunan. Hampir semua stasiun televisi berlomba menyangkan film dengan para pemain yang berpakaian tertutup, scene yang banyak mengambil latar aktifitas di masjid, dialog yang tertata demi penguatan makna, penokohan atau karakter-karakter yang mendidik sekiranya pesan moral yang menjadi inti film dapat tersampaikan dengan baik. Dan walaupun kita harus menunggu satu tahun untuk kembali menikmati film-film sejenis itu, rasanya waktu  tersebut tak berarti mengingat kerinduan kita pada film yang mengangkat edukasi Islami.
            Sebutlah judul-judul “Lorong Waktu”, “Para Pencari Tuhan”, “Hikmah”, atau serial khusus Ramadhan yang lainnya. Selain sebagai hiburan, film bergenre islami itu banyak disukai karena sarat bermuatan hikmah. Alhasil, film-film tersebut meraup rating tinggi sehingga ada yang sempat ditayangkan ulang pada tahun berikutnya dan ada juga yang diproduksi ulang dengan judul dan pemain yang sama. Bahkan ada yang bertahan hingga periode tahun ke enam. Walaupun, banyak pula yang menyayangkan seri-seri pada tahun ke dua dan selanjutnya tidak sebagus seri-seri pada tahun perdananya. Ada juga yang mengatakan terjadi penurunan kualitas nilai pesan  atau pengikisan hikmah-hikmah pada pada seri yang belakangan karena ide cerita sudah tidak fresh lagi dan terkesan dipaksa-paksakan.
            Dia awal tahun 2008, muncul sebuah film yang fenomenal. Film berjudul “Ayat-ayat Cinta” yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy itu menjadi pembicaraan cukup panjang di lingkungan publik. Selain memberi pemandangan yang berbeda karena berlatar kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Al-Azhar Kairo, Ayat-ayat Cinta menghadirkan lika-liku cerita yang memikat. Tak ayal, meski sang penulis novel mengakui ada beberapa bagian yang menyimpang dan tidak seseui dengan karya aslinya, film ini menuai kesuksesan yang luar biasa.