Armeita anak orang kaya. Semua anak tahu itu. Setiap
hari dia diantar ke sekolah dengan menggunakan mobil sedan berwarna merah
mengkilap. Barang-barang miliknya, seperti tas, sepatu, alat tulis dan
sebagainya bagus dan berkualitas. Dia juga sering memakai aksesoris yang
berbeda setiap harinya.
Dia anak pindahan dari Semarang. Aku hanya mengenal dia sekedarnya.
Teman-teman di sekolahku banyak mengira dia anak yang sombong. Mereka
berpikiran seperti itu karena melihat dari penampilan Meita dan tingkahnya yang
lebih sering main sendiri. Padahal menurutku Armeita anak yang baik dan ramah.
Hanya saja pembawaannya yang pendiam membuat dia kurang cepat akrab dengan anak
yang lain.
Buktinya, ketika ujian Matematika kemarin. Saat itu
aku lupa membawa alat tulis. Tempat pensil yang biasa aku bawa dalam tas,
tiba-tiba tidak berada pada tempatnya. Pastilah barang itu tertinggal di rumah.
Lalu, bagaimana aku mengambilnya?? Tidak mungkin meminta ijin pada Pak Bagio
untuk pulang mengambilnya. Nanti malah Pak Bagio menyangka aku mengada-ada.
Tapi mana mungkin aku mengerjakan ujian tanpa sebuah alat tulis pun?
Aku celingukan ke kanan dan ke kiri. Disaat seperti
ini, siapa yang bisa membantuku?
Saat itulah pandanganku bertemu dengan Armeita, anak Semarang keturunan Sunda
itu. Melihat kebingunganku dia bertanya, “Kenapa, An?”
“Pensilku ketinggalan,” jawabku.