Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Tunjuk Dengan Jarimu, Nak… Dan Mulailah Belajar



~Hyt.K


Bismillahirohmanirrahim….
           Dengan menyebut namaMu ya Allah, langkah ini dan ribuan langkah-langkah lain hanya mengharap suatu ridloMu. Bismillahirahmanirrahim, satu langkah lagi  ya Allah, satu langkah memasuki gerbang amanah yang berhasil tidak aku rebut dengan paksa atau dengan cara yang nista.
Tuhan, bukankah satu langkah ini mudah? Namun terasa berat saat terbayang betapa panjang perjuangan yang tersisa. Sangat berat kugerakkan kakiku memasuki gerbang ini. Walau ini adalah pilihanku. Walaupun ini keinginanku. Walau ini impianku.
Bismillah, bisa-kan aku ya Allah. Bisakan aku menebar cintaMu dengan ayunan langkahku.

Kamis, 05 Desember 2013

Rinai Hujan di Balik Mendung Cakrawala



 


Jalan Semolowaru lenggang. Pengendara motor nampak melintas satu-satu. Itu pun hanya sekelebat lalu menghilang tak trlihat lagi. Mobil, itu juga jika ada, berjalan angkuh sambil mengibaskan bintik-bintik air dari kaca depan bagian luar. Para pejalan kaki merapatkan diri di teras-teras toko atau bangunan lain yang memiliki atap lebih untuk berteduh.
Hujan memang tidak sepenuhnya berhenti. Titik-titik air sisa masih saja menetes. Mendung tidak jua mau membubarkan diri. Hingga langit harus rela bertahan dengan warna kelabu. Angin berhembus syahdu, menyeruakan aroma khas tanah basah. Pantaslah jika orang-orang masih enggan keluar. Cuaca begini memang paling enak menyembunyikan diri. Meski sebagian orang sudah mulai melakukan aktifitasnya, sebagian lain menunda dengan alasan akan ada hujan lebat susulan.
Bagiku, hujan adalah anugrah. Airnya bisa jadi mengandung berkah. Karena hujan merupakan suatu keajaiban semesta. Bukankan hujan adalah sirkulasi alam. Ia adalah hasil dari penguapan air laut yang kemudian mengalami proses pembekuan/ penyubliman/ pengembunan/ pencairan, atau apalah namanya.

Selasa, 03 Desember 2013

My Veil My Dream




My Veil My Dream

Hyt,k


            Kupandang diriku dalam cermin dengan hati mengharu basah. Betapa cantik wajah ini dalam balutan kain satin warna ungu.  Benar kata Mbak Santi bahwa inilah yang disebut ‘krona rembulan’.
“Coba perhatikan saat bulan purnama, ada garis melingkar yang tampak mengelilingi rembulan. Garis itu yang membuat cahaya bulan tampak menyatu, tidak terlalu bias seperti halnya cahaya matahari yang menyilaukan. Cahaya yang terlalu menyilaukan membuat mata kita sakit jika melihatnya terus menerus. Garis lingkaran itu yang menjadikan cahaya bulan menjadi sahdu dan menenangkan jika dipandang. Sama seperti kerudung yang kita pakai, ukhti. Kerudung atau jibab yang kita pakai tidak akan mengurangi kecantikan  kita sedikitpun. Jilbab yang dipakai dengan ikhlas akan menjadi krona di wajah kita, yang akan mengumpulkan aura kecantikan menjadi suatu yang menyejukkan, menenangkan, dan menghindarkan seseorang dari penyakit yang bisa muncul ketika memandangnya,” tutur Mbak Santi saat pertemuan rutin yang kami sepakati sepekan sekali.
 Tak bisa dipungkiri bahwa keinginanku berjilbab telah membibit beberapa tahun yang lalu. Sejak aku iseng-iseng mengisi formulir donatur di sebuah lembaga amal. Jadilah aku penyumbang tetap, meski jumlah donasinya tidak seberapa. Yayasan pengelola amal itu kemudian rutin mengirimkan majalah keislaman, sebagai servis lembaga kepada setiap donatur. Dari isi majalah yang sering memuat kajian-kajian muslimah aku tau bahwa menutup bagian  tubuh yang tidak halal dilihat orang yang bukan muhrim adalah wajib. Maka  sebagai seorang muslimah, aku pun ingin menyambut seruan Allah dalam Quran Surah Annur ayat 31 itu.
Dan ketika Allah berkehendak mempertemukan aku dengan Mbak Santi, seorang ustadzah cantik yang begitu telaten menuntunku melafalkan huruf-huruf hijaiyah satu demi satu, keinginan itu makin kuat.  Darinya aku banyak belajar tentang hakikat Islam. Dari penuturannya pula aku

Pensil Sahabat




Armeita anak orang kaya. Semua anak tahu itu. Setiap hari dia diantar ke sekolah dengan menggunakan mobil sedan berwarna merah mengkilap. Barang-barang miliknya, seperti tas, sepatu, alat tulis dan sebagainya bagus dan berkualitas. Dia juga sering memakai aksesoris yang berbeda setiap harinya.
Dia anak pindahan dari Semarang. Aku hanya mengenal dia sekedarnya. Teman-teman di sekolahku banyak mengira dia anak yang sombong. Mereka berpikiran seperti itu karena melihat dari penampilan Meita dan tingkahnya yang lebih sering main sendiri. Padahal menurutku Armeita anak yang baik dan ramah. Hanya saja pembawaannya yang pendiam membuat dia kurang cepat akrab dengan anak yang lain.
Buktinya, ketika ujian Matematika kemarin. Saat itu aku lupa membawa alat tulis. Tempat pensil yang biasa aku bawa dalam tas, tiba-tiba tidak berada pada tempatnya. Pastilah barang itu tertinggal di rumah. Lalu, bagaimana aku mengambilnya?? Tidak mungkin meminta ijin pada Pak Bagio untuk pulang mengambilnya. Nanti malah Pak Bagio menyangka aku mengada-ada. Tapi mana mungkin aku mengerjakan ujian tanpa sebuah alat tulis pun?
Aku celingukan ke kanan dan ke kiri. Disaat seperti ini, siapa yang bisa membantuku?
Saat itulah pandanganku bertemu dengan Armeita, anak Semarang keturunan Sunda itu. Melihat kebingunganku dia bertanya, “Kenapa, An?”
“Pensilku ketinggalan,” jawabku.