Selasa, 03 Desember 2013

My Veil My Dream




My Veil My Dream

Hyt,k


            Kupandang diriku dalam cermin dengan hati mengharu basah. Betapa cantik wajah ini dalam balutan kain satin warna ungu.  Benar kata Mbak Santi bahwa inilah yang disebut ‘krona rembulan’.
“Coba perhatikan saat bulan purnama, ada garis melingkar yang tampak mengelilingi rembulan. Garis itu yang membuat cahaya bulan tampak menyatu, tidak terlalu bias seperti halnya cahaya matahari yang menyilaukan. Cahaya yang terlalu menyilaukan membuat mata kita sakit jika melihatnya terus menerus. Garis lingkaran itu yang menjadikan cahaya bulan menjadi sahdu dan menenangkan jika dipandang. Sama seperti kerudung yang kita pakai, ukhti. Kerudung atau jibab yang kita pakai tidak akan mengurangi kecantikan  kita sedikitpun. Jilbab yang dipakai dengan ikhlas akan menjadi krona di wajah kita, yang akan mengumpulkan aura kecantikan menjadi suatu yang menyejukkan, menenangkan, dan menghindarkan seseorang dari penyakit yang bisa muncul ketika memandangnya,” tutur Mbak Santi saat pertemuan rutin yang kami sepakati sepekan sekali.
 Tak bisa dipungkiri bahwa keinginanku berjilbab telah membibit beberapa tahun yang lalu. Sejak aku iseng-iseng mengisi formulir donatur di sebuah lembaga amal. Jadilah aku penyumbang tetap, meski jumlah donasinya tidak seberapa. Yayasan pengelola amal itu kemudian rutin mengirimkan majalah keislaman, sebagai servis lembaga kepada setiap donatur. Dari isi majalah yang sering memuat kajian-kajian muslimah aku tau bahwa menutup bagian  tubuh yang tidak halal dilihat orang yang bukan muhrim adalah wajib. Maka  sebagai seorang muslimah, aku pun ingin menyambut seruan Allah dalam Quran Surah Annur ayat 31 itu.
Dan ketika Allah berkehendak mempertemukan aku dengan Mbak Santi, seorang ustadzah cantik yang begitu telaten menuntunku melafalkan huruf-huruf hijaiyah satu demi satu, keinginan itu makin kuat.  Darinya aku banyak belajar tentang hakikat Islam. Dari penuturannya pula aku
memahami betapa indah karunia Islam dan manisnya makna iman. Aku mulai belajar bagaimana Islam mengatur setiap detail kehidupan demi kemaslahatan umatnya. Aku ingin berusaha menjadi muslimah yang kaffah, yang selalu mematuhi aturan Allah tanpa memilah-milah. Termasuk urusan hijab.
Menurut Mbak Santi, seorang wanita muslim yang balig tidak perlu menunggu siap untuk berhijab. Karena perintah hijab itu turun tanpa syarat apapun. Tidak seperti perintah haji yang terdapat embel-embel ‘jika mampu’.  Perintah hijab tidak memberi ruang kita untuk menunggu!
Yeah! Alhamdulillah, aku tidak harus repot-repot menarik tirai rumah untuk menjulurkan jilbabku; seperti cerita sahabiyah yang pernah dikisahkan Mbak Santi. Ada bermacam warna dan corak jilbab yang tersedia di pasar baju muslim. Aku tinggal memilih beberapa dan membelinya.
Memang aku bukan dari keluarga kaya. Tapi posisiku di kantor sudah mulai mapan dan gajiku pun lumayan. Bahkan sejak ayahku  tertimpa kecelakaan dan tidak mampu lagi bekerja,  penghasilanku cukup untuk menghidupi keluargaku. Dan sampai saat ini akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Jadi untuk tiga atau empat lembar jilbab, aku bisa membelinya dengan mengambil sedikit tabungan.
Bismillah ya Allah... semoga niatku ikhlas mengharap ridhaMu!

****

Hampir satu setengah tahun aku belajar mengaji. Mbak Santi bilang ketika seseorang membaca Quran dengan tartil malaikat turut bertilawah bersamanya, dan jika ada orang yang masih terbata membaca kalamNya maka Allah akan memberikan dua kali pahala. Sabda Nabi itu menjadi motivasi bagiku untuk tidak menyerah belajar melafalkan ayat-ayatNya. Kini aku sudah mulai bisa membaca Al Quran.
Beberapa kali Mbak Santi juga mengajakku ke majelis taklim. Katanya untuk menambah saqafah keislamanku. Aku senang sekali. Berkumpul dengan orang-orang hebat yang selalu bersemangat mempelajari Islam membuat aku merasa  jadi bagian dari mereka.
Dan sudah beberapa bulan ini aku bergabung dengan kelompok kecil yang mengkaji ilmu Islam secara intens. Tidak banyak anggota kelompok kami. Setiap kali pertemuan hanya enam orang, bertujuh dengan Mbak Santi. Tapi bagiku kelompok ini bukan kelompok biasa. Kami tidak hanya bertemu, mengaji, lalu pulang dengan dengan hanya mengucap ‘ila liqa...!’ (sampai bertemu lagi!). Melainkan ada ikatan persaudaraan yang kuat diantara kami.  Kami sepakat dengan konsep satu kue untuk tujuh potong. Bukan berarti mengesklusifkan diri, maksudnya adalah satu orang adalah bagian dari yang lain. Bukankan kaum muslim  sejatinya seperti satu batang tubuh? Sehingga aku menyayangi teman-temanku seperti aku menyayangi saudaraku sendiri.


“Assalamualaikum..., Mbak nanti jadi ke rumah Mbak Santi kan? Ane tunggu ya Mbak! Jazakillah.” Sms Mila muncul dilayar hp-ku. Mila adalah salah satu teman halaqahku. Dia baru lulus SMK. Rumahnya searah dengan rumah Mbak Santi. Jadi tiap kali ada jadwal pertemuan rutin, aku menjemputnya lalu kami berangkat bersama. Tidak hanya itu, terkadang aku memintanya menemaniku jalan-jalan atau sekedar belanja. Begitupun sebaliknya, beberapa kali dia mengajakku berkunjung ke rumah saudaranya.
“Dhek, nanti mampir ke toko asesoris dulu ya....,” ucapku sedikit berteriak. Hembusan angin menerbangkan suaraku hingga menjadi sayup-sayup.
“Kemana mbak?” terdengar Mila memekik dari belakangku. Dari kaca sepion aku melihat dia menarik ujung kerudungnya yang berkibar tertiup angin.
“Ke toko asseseoris dhek. Ema minta dibelikan jepit rambut.”
“Owh... oke Mbak.”

Selesai halaqah, aku dan Mila mampir ke toko asesoris. Aku membeli beberapa penjepit rambut untuk Ema adikku. Sekalian sebuah bros kecil yang aku suka karena bentuknya yang lucu.
Sedangkan Mila tampak asik di rak yang memajang aneka  bentuk sisir rambut. Pilih punya pilih, Mila ahirnya  tampak membeli salah satu.
Aku meraih sisir pilihan Mila dari tangannya. “Sini Dhek, bayar jadi satu aja,” kataku.
“Eh, jangan Mbak.”
“Nggak papa.” Aku menyimpul senyum. Mila  menurut pasrah.

Setelah selesai bertransaksi di kasir, kami bergegas pulang. Kuantarkan Mila sampai depan pagar rumahnya.  Perempuan manis itu pun turun dari boncenganku. Setelah mengucap ‘Jazakillah’ seraya melambaikan tangan dia segera berbalik masuk rumah.
Kemudian aku kembali tancap gas. Sebentar lagi magrib, pikirku. Dan aku ingin cepat sampai rumah.
Dalam perjalanan aku baru ingat kantong plastik berisi belanjaan asesoris kami masih tersimpan di tas Mila. Mungkin dia lupa menyerahkannya padaku. Aku pun lupa memintanya. Namun karena sudah kelewat sore, urung ku balikkan motor untuk kembali ke rumah Mila. Biar aku ambil besok saja, batinku.
Ternyata sesampainya dirumah, ada sms dari Mila yang tersimpan di inbox handponeku. “Mbak, jepit rambutnya kelupaan. Besok aja mila antar ke rumah mbk nurul. Anti pulang kerja jam berapa mbak?” Lalu aku balas: “Ok gpp dhek..., besok insyaallah pulang kerja jam 4 sore.”

****

Selaksa jingga  berkumpul di ufuk barat.  Mengawal sang surya menunaikan tugas di salah satu sisi dunia. Tak tampak kabut senja. Hanya asap kenalpot yang semakin mengepul, dengan cepat memenuhi volume udara dalam ruang kota.
Udara sore ini memang pengap. Mungkin ini salah satu alasan banyak orang membenci hari Senin. Karena pekerjaan di hari ini selalu menumpuk. Tadi aku harus mengentri data dua kali lebih banyak dari biasanya. Dan semua harus selesai hari ini juga. Hfftt..., jadwal pulang jadi molor 2 jam!
Tentu aku masih ingat janjiku dengan Mila hari ini jam 4 sore. Pasti Mila sudah datang dari tadi. Atau dia memutuskan pulang karena kelamaan menungguku. Kupercepat laju kendaraanku.

Ahirnya sampai juga. Terlihat Mila duduk di kursi teras rumah. Tampaknya dia masih menungguku. Afwan ukhti, ini diluar rencana.
Kukulum senyum manis untuknya sambil melepas helm. Tapi kulihat tatapannya nanar kearahku. Aku mendadak heran, apa yang sudah terjadi padanya?
“Mbak Nurul....,” ucapnya lirih. Suaranya terdengar bergetar.
Kurasakan pandangan Mila menelusuri bagian-bagian diriku. Seperti mesin scaning yang sedang mengalisa file. Lalu kepalanya tertunduk beku.
“Astagfirllahaladzim....,” aku mengucap istigfar dalam-dalam setelah sadar apa yang Mila rasakan. “Astagfirllahaladzim....!! Afwan dhek... Afwan Ukhti..., afwan....” aku mendekati Mila. Dia kembali menatapku. Kali ini tatapan matanya seolah menghujam pada setiap sudut tubuhku. “Afwan...,” terasa llinangan air mulai meleleh dari sudut mataku. “Maaf dhek..., maaf...., maaf Mbak belum bisa sempurna. Mbak belum bisa berhijab dengan sempurna.”
Ingin kupeluk tubuh Mila, berharap memperoleh kekuatan karena tiba-tiba hati dan ragaku melemah. Tapi ragu menyelimutiku. Akankah Mila masih mau memelukku setelah kebohongan yang sekian lama kututupi darinya?
“Mbak Nurul....,” suaranya masih lirih. “Kenapa, Mbak? Kenapa?”
Aku meraih handle kursi dan menjatuhkan tubuhku disana. Berbagai dilema menyeruak pada nuraniku. Kuruntuki kelemahan-kelemahanku. Sikapku yang tidak tegas memutuskan sesuatu. Keimananku setengah-setengah, hingga rela kutukar dengan harga murah. Aku merasa merasa menjadi orang yang sangat hina.
“Maaf Mil..., Mbak tidak bisa melepaskan pekerjaan ini. Mbak masih takut. Mbak belum bisa tawakal sepenuhnya....,” ucapku terbata.
Mila mendekatiku. Ia bersimpuh dihadapanku, menumpukan tubuh pada lututnya. “Kenapa Mbak?” katanya mengulang pertanyaan itu.
“Ini bukan keinginanku Mil. Mbak sangat ingin berhijab sempurna. Tapi pekerjaan Mbak tidak memungkinkan itu. Mbak Nurul bekerja di perusahaan asing, sehingga tidak diperbolehkan berjilbab dalam area kerja. Maaf dhek..., Mbak tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Karena Mbak bukan bekerja untuk diri sendiri tapi juga untuk Ayah, Mama, dan juga Ema. Bagaimana nasib mereka jika Mbak tidak pekerjaan lagi...??!” Air mataku mengalir semakin deras. Kusapu pipi dan leher telanjangku. Kerah kemeja berlogo perusahaan yang kukenakan juga melai terasa basah.
 Mila tiba-tiba beranjak dan mendekap tubuhku. “Mbak Nurul tidak perlu minta maaf. Seandainya Mila dalam posisi Mbak Nurul, mungkin Mila akan melakukan hal yang sama.”
“Maaf Dhek, Mbak tidak pernah mengatakan ini sebelumnya.”
“Tidak apa-apa Mbak. Hanya saja Mila sangat prihatin. Mengapa sebuah perusahaan besar yang di negara asalnya mengatakan menjunjung hak asasi manusia, mendukung kebebasan berpikir dan berekspresi masih mengekang kita dalam menjalankan ideologi?”
Pelukan Mila terasa makin rapat.
“Semoga Allah segera memberi jalan terbaik ukhti...,” ucapnya.
“Terimakasih dhek. Terimakasih ukhti.” Mataku kembali berair membuat jilbab jingga Mila kebas basah. Jilbab  yang belum bisa aku pertahankan. Jilbab impian yang harusnya aku kenakan pada saat apapun. Jilbab yang tidak pernah tertanggal tatkala ada mata liar memandang. Jilbab yang terpasang layaknya krona rembulan. *)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar