Rabu, 04 Maret 2015

Syukur... Mensyukuri, Bukan Syukurin ^_^

Dulu sempat galau ihwal syukur... Apa yang harus dilakukan ketika bersyukur dan bagaimana cara bersyukur yang benar. Ingat juga pernah nulis timeline ef-be "bukannya nggak bersyukur tapi bingung bagaimana caranya".
Mungkin secara umum atau pandangan yang paling mudah dan melekat bagi tiap orang, bersyukur adalah dengan mengucap "Alhamdulillah". Ya, ini tidak salah. Memuji Allah sebagai satu-satunya zat pencipta dan pemberi kenikmatan merupakan suatu bentuk rasa syukur. Namun pertanyaannya, apakah cukup kita bersyukur hanya dengan mengucap Alhamdulillah? Berapa kali kita harus melafalkannya mengingat kenikmatan Allah yang begitu banyak bahkan nyaris tanpa batas?
Ataukah ada bentuk cara syukur yang lain?

Dr. Quraish Shihab mengurai cara bersyukur dari tiga sisi:
a. Syukur dengan hati
b. Syukur dengan lidah
c. Syukur dengan perbuatan

Syukur dengan hati yakni dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita terima adalah semata pemberian Allah dan merasa rela dan ridha atas pemberian tersebut sekecil apapun nikmat pemberian itu.

Syukur dengan lidah atau lisan adalah mengucapan pujian terhadap Allah sang pemberi nikmat, seperti yang lazim kita lakukan yakni dengan mengucap "Alhamdulillah".

Syukur dengan perbuatan adalah memanfaatkan anugrah/pemberian yang diperoleh sesuai tujuan pemberiannya.

Yup!Dari paparan itu kita bisa melihat bahwa syukur bukan hanya (cukup) mengucap Alhamdulillah. Mengucap Alhamdulillah atau segala bentuk pengucapan syukur dengan lidah hanya memenuhi satu sisi rasa kesyukuran. Artinya, walau beratus kali kita mengucap Alhamdulillah namun hati kita tidak ridha atas nikmat yang diterima, karena mungkin terlalu kecil, tidak sesuai harapan, atau sebagainya, maka bisa dikatakan kita belum menunaikan syukur. Pun ketika kita sudah ridha terhadap pemberian Allah, menyebutnya (dengan megucap Alhamdulillah, dsb) tapi tidak memanfaatkan pemberian tersebut sesuai fitrah pemberiannya, maka juga belum dikatakan bersyukur.

Sebuah contoh, seseorang yang mendapat kenaikan jabatan dari karyawan menjadi direktur perusahaan. Tentu dalam hati dia merasa senang, puas, dan lebih ridha terhadap nikmat Allah yang dia terima. Pada setiap kesempatan dia selalu mengatakan "Alhamdulillah, Allah memberi jabatan pekerjaan yang lebih baik". Tapi cara kerja dia di perusahaan tetap sama, tidak ada peningkatan kinerja, flat aja, atau dengan kata lain dia tidak berusaha mengoptimalkan potensinya sesuai jabatan direktur, ini pun belum memenuhi nilai perilaku syukur dengan sempurna.

Dalam ayat ke 7 QS Ibrahim, Allah telah memberi maklumat: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". Ayat ini tentu sudah familiar di telinga kita, dan biasanya selalu disampaikan tatkala membahas perihal syukur. Secara gamblang tuturan ayat ini menyerukan kewajiban bersyukur dan ancaman Allah jika mangkir dari syukur atas nikmat pemberiaNya. Tapi secara tersirat, tidakkah kita merasa ayat ini bisa jadi barometer kesuksesan syukur kita?

Keimanan terhadap ayat-ayat Al Quran adalah haq. Meyakini setiap janji Allah dalam firman-firmanNya tentu wajib kita terapkan. Lalu jika Allah menyebutkan "jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..." lalu nikmat yang kita terima tidak berubah, bukankah pasti ada sesuatu yang salah? Misal kembali pada contoh, seorang karyawan yang naik jabatan jadi direktur dan selama 10 tahun tetap menjadi direktur dengan kondisi yang persis sama seperti 10 tahun sebelumnya, apakah dia sudah menjalankan perintah syukur dengan sempurna? Bukankah Allah berjanji menambah kenikmatan bagi orang-orang yang bersyukur? Cz tidak akan ada yang salah dengan janji Allah, maka sejatinya ketika tidak merasakan tambahan nikmat dari Allah pasti ada yang salah dari perilaku syukur kita.



^uughhh.... udah ngantuk...!! insyaallah next lanjut di bagian yg lain.. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar